|
Nama Jurnal
|
Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)
|
|
Volume / Halaman
|
Vol. 17
|
|
Nama Penulis
|
Dio Putra Perdana, Fransisca
Yaningwati, dan Muhammad Saifi
|
|
Judul Jurnal
|
PENGARUH PELEMAHAN NILAI TUKAR
MATA UANG LOKAL (IDR) TERHADAP NILAI EKSPOR (Studi Pada Ekspor Crude Palm Oil
(CPO) Indonesia Tahun 2009-2013)
|
|
Tanggal Jurnal
|
Desember 2014
|
|
Review
|
Asih
Liana, Neni Kuswanti, Noviani Wilda.Z, Revika Rusviana, Vikcy Amalia.H
|
|
Tujuan Penelitian
|
Untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh pelemahan mata uang lokal (depresiasi) terhadap nilai ekspor, yang
dalam penelitian ini menggunakan ekspor crude palm oil (CPO) Indonesia tahun
2009-2013
|
|
Metode Penelitian
|
Regresi Linear
|
|
Variabel Penelitian
|
Depresiasi dan Nilai Ekspor
|
|
Abstrak
|
Hasil penelitian menunjukkan
Depresiasi berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor dengan nilai
statistik uji |thitung| lebih besar dari ttabel (4,963> 2,032)
|
|
Analisis
|
Variabel depresiasi (X)
berpengaruh siginifikan terhadap variabel nilai ekspor (Y), Hal ini dapat diartikan
bahwa terjadinya pelemahan nilai tukar mata uang mata uang lokal secara
signifikan mempengaruhi terjadinya kenaikan nilai ekspor
|
|
Kesimpulan
|
Penelitian ini bermanfaat bagi
pihak pelaku bisnis atau eksportir agar hendaknya memperhatikan dengan seksama
fluktuasi nilai tukar mata uang, dan mampu memprediksi pergerakan fluktuasi
mata uang untuk transaksi dimasa yang akan datang
|
Senin, 01 Mei 2017
Akuntansi Internasional (Tugas 6)
Akuntansi Internasional (Tugas 5)
|
Nama Jurnal
|
Jurnal Akuntansi dan Keuangan
|
|
Volume / Halaman
|
VOL. 13/24-36
|
|
Nama Penulis
|
Megawati Cheng dan Yulius Jogi
Christiawan
|
|
Judul Jurnal
|
Pengaruh Pengungkapan Corporate
Social Responsibility Terhadap Abnormal Return
|
|
Tanggal Jurnal
|
Mei 2011
|
|
Review
|
Asih
Liana, Neni Kuswanti, Noviani Wilda.Z, Revika Rusviana, Vikcy Amalia.H
|
|
Tujuan Penelitian
|
Untuk mengetahui apakah
pengungkapan informasi CSR perusahaan yang berhubungan dengan sumber daya
alam berpengaruh terhadap abnormal return
|
|
Metode Penelitian
|
Analisis Regresi Berganda
|
|
Variabel Penelitian
|
Corporate Social Responsibility,
Abnormal Return, Return On Equity (ROE) dan Price to Book Value (PBV)
|
|
Abstrak
|
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pengungkapan CSR berpengaruh signifikan terhadap abnormal return yang
menandakan bahwa investor mempertimbangkan informasi CSR untuk membuat
keputusan.
|
|
Analisis
|
Pengungkapan informasi CSR dalam
laporan tahunan berpengaruh positif signifikan terhadap abnormal return
Return on Equity (ROE) tidak
berpengaruh positif signifikan terhadap abnormal return, dan
Price to Book Value (PBV) tidak
terbukti berpengaruh signifikan terhadap abnormal return
|
|
Kesimpulan
|
Penelitian ini dapat dimanfaatkan
bagi pembuat regulasi dan perusahaan, yaitu agar perusahaan memperhatikan
kelengkapan item-item pengungkapan CSR yang perlu diungkapkan dalam laporan
tahunan.
|
Akuntansi Internasional (Tugas 4)
|
Nama Jurnal
|
E-Jurnal Akuntansi Universitas
Udayana
|
|
Volume / Halaman
|
Vol 6 / 274-286
|
|
Nama Penulis
|
Ni Kadek Intan Nuariyanti dan Ni
Made Adi Erawati
|
|
Judul Jurnal
|
ANALISIS KOMPARATIF KINERJA PERUSAHAAN
SEBELUM DAN SESUDAH KONVERSI KE IFRS
|
|
Tanggal Jurnal
|
2014
|
|
Review
|
Asih
Liana, Neni Kuswanti, Noviani Wilda.Z, Revika Rusviana, Vikcy Amalia.H
|
|
Tujuan Penelitian
|
Penelitian
ini menggunakan data kuantitatif yang berupa laporan keuangan PT. Bank Mandiri
(Persero) Tbk, dengan pengumpulan data sekunder melalui situs resmi Bursa
efek Indonesia yaitu http://www.idx.co.id atau metode observasi non partisipan Populasi dalam
penelitian ini sektor perbankan yang go publik. Sementara sampel dalam
penelitian ini adalah PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. Metode penentuan sampel
yang digunakan adalah teknik
|
|
Metode Penelitian
|
Sample jenuh yaitu teknik sampling
bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Untuk mengetahui
persentase bobot nilai rasio-rasio keuangan dapat menggunakan acuan sesuai
dengan standar ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia namun, dengan
memilih beberapa rasio yang dipengaruhi oleh penerapan IFRS antara lain
sebagai berikut:
1.Rasio likuiditas
2.Rasio rentabilitas
3.Rasio solvabilitas
|
|
Variabel Penelitian
|
Kinerja perusahaan sebagai
variabel terikat (Y) dan konversi ke IFRS sebagai variabel bebas (X)
|
|
Abstrak
|
Berdasarkan
hasil perhitungan dan hasil komparasi rasio keuangan PT. Bank Mandiri
(Persero) Tbk antara periode sebelum konversi IFRS (2002-2006) dengan periode
setelah konversi IFRS (2008-2012) memiliki perbandingan dinilai dengan
perhitungan rasio-rasio keuangan. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal pokok
yang diatur atau disebabkan oleh penerapan konversi IFRS yaitu:
a.Penilaian
dan pengukuran assets.
b.Pengakuan biaya research and
development.
|
|
Analisis
|
Berdasarkan
hasil perhitungan maupun hasil komparasi rasio keuangan PT. Bank Mandiri
(Persero) Tbk sebelum konversi IFRS dengan periode setelah konversi IFRS
diperoleh simpulan sebagai berikut: Terdapat perbedaan kinerja bank Mandiri
yang dinilai dari Loan to Assets ratio, Return on Assets serta Debt to Equity
Ratio antara periode sebelum konversi IFRS dengan periode setelah konversi
IFRS. Perbedaan kinerja antara periode sebelum konversi IFRS dengan periode
setelah konversi IFRS disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut: penerapan
prinsip penilaian assets yang menggunakan basis fair value atau nilai wajar
untuk periode setelah konversi IFRS, metode pengakuan biaya reasearch an
development yang tidak lagi dikapitalisasi.
|
|
Kesimpulan
|
Jurnal ini cukup menarik dengan
memaparkan pembahasan yang lengkap sehingga memberikan informasi yang sangat
bermanfaat terkait dengan komparatif kinerja perusahaan sebelum dan sesudah
konversi ke IFRS.
|
Rabu, 29 Maret 2017
Akuntansi Internasional (Tugas 2)
|
Judul
|
PERKEMBANGAN
STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN
INDONESIA
MENUJU INTERNATIONAL FINANCIAL
REPORTING
STANDARDS
|
|
Jurnal
|
JURNAL EKONOMI
|
|
Download
|
http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents
|
|
Vol & Hal
|
Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 14 No.2, Juli
2009
|
|
Tahun
|
2009
|
|
Penulis
|
Rindu
Rika Gamayuni
|
|
Reviewer
|
Asih
Liana, Neni Kuswanti, Noviani Wilda.Z, Revika Rusviana, Vikcy Amalia.H
|
|
Tanggal
|
Juli
2009
|
|
Abstrak
|
Standar
Akuntansi Keuangan Indonesia perlu mengadopsi IFRS, sehingga laporan keuangan
Indonesia dapat diterima secara global dan perusahaan Indonesia mampu
memasuki persaingan global untuk menarik investor internasional. Saat ini,
adopsi oleh PSAK Indonesia adalah dalam bentuk harmonisasi, yang berarti
adopsi parsial. Namun, Indonesia berencana untuk sepenuhnya mengadopsi IFRS
pada tahun 2012. Seperti adopsi akan wajib bagi perusahaan yang terdaftar dan
multinasional.
Keputusan
apakah Indonesia akan sepenuhnya mengadopsi IFRS atau sebagian mengadopsi
untuk tujuan harmonisasi perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. adopsi penuh
IFRS akan meningkatkan keandalan dan daya banding laporan keuangan
internasional. Namun, mungkin bertentangan dengan sistem pajak Indonesia dan
situasi ekonomi dan politik lainnya.
Jika
Indonesia yang mengadopsi sepenuhnya IFRS tahun 2012, tantangan dihadapkan
pertama oleh masyarakat akademik dan perusahaan. Kurikulum, silabus, dan
sastra perlu disesuaikan untuk mengakomodasi perubahan. Ini akan memakan
waktu yang cukup dan usaha karena banyak aspek yang terkait dengan perubahan.
Penyesuaian juga perlu dilakukan oleh perusahaan atau organisasi, terutama
mereka dengan transaksi internasional dan interaksi.
Adopsi
penuh juga berarti perubahan prinsip akuntansi yang telah diterapkan sebagai
standar akuntansi di seluruh dunia. Ini mungkin tidak akan tercapai dalam
waktu singkat, karena sejumlah alasan: (1) standar akuntansi sangat terkait
dengan sistem pajak. Adopsi IFRS untuk internasional dapat mengubah sistem
pajak di setiap negara yang sepenuhnya mengadopsi IFRS. (2) Standar akuntansi
adalah akuntansi kebijakan untuk memenuhi kebutuhan politik dan ekonomi
nasional yang berbeda-beda di setiap negara. Ini mungkin menjadi tantangan
yang signifikan dalam sepenuhnya mengadopsi IFRS.
|
|
Analisis
Kesimpulan
|
Standar
akuntansi di Indonesia saat ini belum menggunakan secara penuh (full adoption)
standar akuntansi internasional atau International Financial Reporting
Standard(IFRS). Standar akuntansi di Indonesia yang berlaku saat ini
mengacu pada USGAAP (United Stated Generally Accepted Accounting Standard),
namun pada beberapa pasal sudah mengadopsi IFRS yang sifatnya harmonisasi.
Adopsi yang dilakukan Indonesia saat ini sifatnya belum menyeluruh, baru
sebagian (harmonisasi). Era globalisasi saat ini menuntut adanya suatu sistem
akuntansi internasional yang dapat diberlakukan secara internasional di
setiap negara, atau diperlukan adanya harmonisasi terhadap standar akuntansi
internasional, dengan tujuan agar dapat menghasilkan informasi keuangan yang
dapat diperbandingkan, mempermudah dalam melakukan analisis kompetitif dan
hubungan baik dengan pelanggan, supplier, investor, dan kreditor.
Namun proses harmonisasi ini memiliki hambatan antara lain nasionalisme dan
budaya tiap-tiap negara, perbedaan system pemerintahan pada tiap-tiap negara,
perbedaan kepentingan antara perusahaan multinasional dengan perusahaan
nasional yang sangat mempengaruhi proses harmonisasi antar negara, serta
tingginya biaya untuk merubah prinsip akuntansi.
Choi dan
Mueller (1998) mendefinisikan akuntansi internasional adalah akuntansi
internasional yang memperluas akuntansi yang bertujuan umum, yang
berorientasi nasional, dalam arti yang luas untuk: (1) analisa komparatif
internasional, (2) pengukuran dan isu-isu pelaporan akuntansinya yang unik
bagi transaksi bisnis-bisnis internasional dan bentuk bisnis perusahaan
multinasional, (3) kebutuhan akuntansi bagi pasar-pasar keuangan
internasional, dan (4) harmonisasi akuntansi di seluruh dunia dan harmonisasi
keragaman pelaporan keuangan melalui aktivitas-aktivitas politik, organisasi,
profesi dan pembuatan standar.
Choi, et al.
(1999) menyatakan bahwa Harmonisasi merupakan proses untuk meningkatkan
kompatibilitas (kesesuaian) praktik akuntansi dengan menentukan batasan-batasan
seberapa besar praktik-praktik tersebut dapat beragam. Standart harmonisasi
ini bebas dari konflik logika dan dapat meningkatkan komparabilitas (daya
banding) informasi keuangan yang berasal dari berbagai Negara.
Saat ini
standar akuntansi keuangan nasional sedang dalam proses konvergensi secara
penuh dengan International Financial Reporting Standards (IFRS) yang
dikeluarkan oleh IASB (International Accounting Standards Board. Oleh karena
itu, arah penyusunan dan pengembangan standar akuntansi keuangan ke depan
akan selalu mengacu pada standar akuntansi internasional (IFRS) tersebut.
Untuk hal-hal
yang tidak diatur standar akuntansi internasional, DSAK akan terus
mengembangkan standar akuntansi keuangan untuk memenuhi kebutuhan nyata di
Indonesia, terutama standar akuntansi keuangan untuk transaksi syariah,
dengan semakin berkembangnya usaha berbasis syariah di tanah air. Landasan
konseptual untuk akuntansi transaksi syariah telah disusun oleh DSAK dalam
bentuk Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah. Hal
ini diperlukan karena transaksi syariah mempunyai karakteristik yang berbeda
dengan transaksi usaha umumnya sehingga ada beberapa prinsip akuntansi umum
yang tidak dapat diterapkan dan diperlukan suatu penambahan prinsip akuntansi
yang dapat dijadikan landasan konseptual.
Beberapa
penelitian di luar negeri telah dilakukan untuk menganalisa dan membuktikan
efek penerapan IAS (IFRS) dalam laporan keuangan perusahaan domestik.
Penelitian itu antara lain dilakukan oleh Barth, Landsman, Lang (2005), yang
melakukan pengujian untuk membuktikan pengaruh Standar Akuntansi Internasional
(SAI) terhadap kualitas akuntansi. Penelitian lain dilakukan oleh Marjan Petreski
(2005), menguji efek adopsi SAI terhadap manajemen perusahaan dan laporan
keuangan.
Keuntungan
harmonisasi menurut Lecturer Ph. Diaconu Paul (2002) adalah: (1) Informasi
keuangan yang dapat diperbandingkan, (2) Harmonisasi dapat menghemat waktu
dan uang, (3) Mempermudah transfer informasi kepada karyawan serta
mempermudah dalam melakukan training pada karyawan, (4) Meningkatkan
perkembangan pasar modal domestik menuju pasar modal internasional, (5)
Mempermudah dalam melakukan analisis kompetitif dan operasional yang berguna
untuk menjalankan bisnis serta mempermudah dalam pengelolaan hubungan baik
dengan pelanggan, supplier, dan pihak lain.
Indonesia
perlu mengadopsi standar akuntansi internasional untuk memudahkan perusahaan
asing yang akan menjual saham di negara ini atau sebaliknya. Namun demikian,
untuk mengadopsi standar internasional itu bukan perkara mudah karena
memerlukan pemahaman dan biaya sosialisasi yang mahal. Indonesia sudah
melakukannya namun sifatnya baru harmonisasi, dan selanjutnya akan dilakukan
full adoption atas standar internasional tersebut. Adopsi standar akuntansi
internasional tersebut terutama untuk perusahaan publik. Hal ini dikarenakan
perusahaan public merupakan perusahaan yang melakukan transaksi bukan hanya
nasional tetapi juga secara internasional. Jika ada perusahaan dari luar
negeri ingin menjual saham di Indonesia atau sebaliknya, tidak akan lagi
dipersoalkan perbedaan standar akuntansi yang dipergunakan dalam menyusun
laporan.
Menurut Nobes
dan Parker (2002), rintangan yang paling fundamental dalam proses harmonisasi
adalah: (1) perbedaan praktek akuntansi yang berlaku saat ini pada berbagai
negara, (2) kurangnya atau lemahnya tenaga profesional atau lembaga
profesional di bidang akuntansi pada beberapa negara, (3) perbedaan sistem
politik dan ekonomi pada tiap-tiap negara.
Menurut
Lecturer Ph. Diaconu Paul (2002), hambatan dalam menuju harmonisasi adalah:
(1) Nasionalisme tiap-tiap negara, (2) Perbedaan sistem pemerintahan pada
tiap-tiap negara, (3) Perbedaan kepentingan antara perusahaan multinasional
dengan perusahaan nasional yang sangat mempengaruhi proses harmonisasi antar
negara, (4) Tingginya biaya untuk merubah prinsip akuntansi.
IFRS adalah
sebuah sistem pengukuran kinerja baru. Prinsip akuntansi yang baru ini harus
di umumkan kepada semua pihak di sebuah perusahaan (organisasi). Merubah
standar akuntansi dari standar domestik menjadi standar internasional
bukanlah sekedar berganti aturan akuntansi semata, tetapi juga berarti
perubahan dalam pola pikir pegawai accounting/keuangan dan bagian lain di
perusahaan dalam bekerja, mereka dituntut untuk mengetahui dan bisa membuat
laporan keuangan berstandard IFRS. Hal ini tentu saja membutuhkan waktu dan
usaha yang keras.
1. Standar
Akuntansi Keuangan Indonesia perlu mengadopsi IFRS
2. Saat ini,
adopsi yang dilakukan oleh PSAK Indonesia sifatnya adalah harmonisasi, belum
adopsi secara utuh, namun indonesia mencanangkan akan adopsi seutuhnya IFRS
pada tahun 2012.
3. Perlu
dipertimbangkan lebih jauh lagi sifat adopsi apa yang cocok diterapkan di
Indonesia, apakah adopsi secara penuh IFRS atau adopsi IFRS yang bersifat
harmonisasi yaitu mengadopsi IFRS disesuaikan dengan kondisi ekonomi,
politik, dan sistem pemerintahan di Indonesia.
4. Untuk mencapai
adopsi seutuhnya (full adoption) pada 2012, tantangan terutama dihadapi
oleh kalangan akademisi dan perusahaan di Indonesia.
|
Langganan:
Postingan (Atom)